oleh

Saat Fakultas Jadi Sarang Teroris, Bali Dukung Polisi Pantau Kampus

Loading...

BALI – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Riau mendadak riuh, Sabtu (02/05/2018) lalu, menyusul puluhan Brimob berpakaian serba hitam serta berpenutup wajah plus bersenjata lengkap seketika menyerbu Gedung Gelanggang Mahasiwa Fisip Universitas Riau (Unri).

Sebagaimana dilansir Rimanews, Beberapa dari mereka tak sungkan mengusir mahasiswa serta awak media yang penasaran dan mendekat tempat kejadian perkara, Jalan HR Subrantas, Kota Pekanbaru, 2 Juni 2018 lalu.

Selain satu Baracuda, satu unit mobil Gegana dan Inafis juga siaga di salah satu pintu masuk utama perguruan tinggi negeri terbesar di Riau tersebut.

Di dalam garis Polisi yang melingkar dengan diameter 20 meter itu, terlihat puluhan personel Polda Riau, Polresta Pekanbaru dan Detasemen Khusus 88 Antiteror sibuk keluar masuk gedung Gelanggang Mahasiswa.

Loading...

Beberapa saat kemudian, mereka keluar dari gedung berlantai dua berwarna oranye itu. Beberapa dari mereka tampak menenteng sejumlah plastik berisi beragam jenis barang sitaan.

Dengan cekatan, mereka berusaha menghindari jepretan kamera dan langsung bergegas masuk ke Mobil Gegana.

Tidak lama berselang Direktur Kriminal Umum Polda Riau, Kombes Pol Hadi Purwanto dan Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Susanto meninggalkan gedung tersebut. Namun, keduanya kompak diam membisu terkait penggeledahan tersebut.

Upaya penggeledahan yang berlangsung selama dua jam pun selesai. Polisi juga langsung membongkar garis polisi yang sebelumnya terpasang.

Kondisi kampus kembali normal. Kegiatan olahraga sore juga digelar, namun para mahasiswa masih belum mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi.

Kapolda Riau, Inspektur Jenderal Polisi Nandang akhirnya buka suara terkait upaya penggeledahan yang dilakukan di Kampus Unri Panam, Pekanbaru tersebut.

Secara mengejutkan, Kapolda mengatakan bahwa jajarannya menyita empat unit bom berdaya ledak tinggi dari penggerebekan tersebut. Bom pipa itu disebut-sebut sejenis triacetone triperoxcide (TATP), atau juga dikenal “Mother of Satan”.

Daya ledak bom rakitan itu diklaim setara dengan bom yang meledak di Surabaya, Jawa Timur beberapa waktu lalu.

Selain itu, Nandang juga mengatakan Densus 88 Antiteror dan Polda Riau menangkap tiga terduga teroris. Mereka masing-masing berinisial Z, B dan K. Ketiganya merupakan alumni Fisip Unri, masing-masing angkatan 2002, 2004 dan 2005.

Belakangan, Mabes Polri menyatakan dari tiga pelaku yang diamankan, satu diantaranya telah ditetapkan sebagai tersangka. Dia adalah Z alias alias Zamzam alias Zega. Sementara dua terduga lainnya berstatus sebagai saksi.

Sinyal penetapan Z sebagai tersangka sebenarnya telah disampaikan Nandang saat keterangan pers Sabtu malam itu. Nandang mengatakan Z merupakan sang inisiator dan peracik bom “Emaknya Setan” tersebut. Selain itu, Z yang merupakan alumni Jurusan Pariwisata Fisip Unri itu disebut penyebar paham radikal di kampus.

Pengintaian dua pekan
Sebelumnya Sabtu siang mencekam di Kampus Unri terjadi, Polisi sebenarnya telah melakukan pengintaian selama dua pekan lamanya. Hal itu diakui Nandang yang mengatakan Polda Riau telah melakukan penyelidikan dua pekan terakhir. “Dua minggu sudah (mulai) kita lidik (penyelidikan),” katanya.

Selama dua pekan itu, Polda Riau terus memantau pergerakan Z cs. Dari informasi polisi, Z bersama kedua rekannya telah berada di Kampus Unri selama satu bulan.

Selama itu pula mereka menginap di Sekretariat Mapala Sakai, Fisip Unri. Sementara kesehariannya, Z cs menghabiskan waktu di Gelanggang Mahasiswa. Disanalah mereka diduga meracik bom-bom setan berdaya ledak tinggi.

Awalnya, dia mengatakan Polda Riau bersama dengan Detasemen Khusus 88 Antiteror berencana melakukan penggerebekan tersebut pada Jumat, atau sehari sebelum penggerebekan. Namun, dia mengatakan penggerebekan itu urung dilakukan atas dasar beberapa pertimbangan.

Dia menjelaskan sebelum melakukan penggerebekan, Polisi terlebih dahulu telah mengumpulkan data, terkait siapa, bagaimana dan bentuk aktivitas mencurigakan di perguruan tinggi negeri terbesar di Riau tersebut.

Tiga terduga teroris yang ditangkap Densus 88 dan Polda Riau, di kawasan Kampus Fisip Unri berencana meledakkan bom-bom “setan” rakitannya di gedung DPR dan DPRD Riau.

Fakta itu terungkap setelah ketiganya diperiksa intensif oleh Polisi. Nandang mengaku bersyukur bahwa Polisi berhasil menggagalkan upaya tersebut sehingga aksi itu dapat digagalkan, dan tidak menimbulkan korban jiwa akibat perbuatan yang termasuk kejahatan luar biasa tersebut. “Kita bersyukur malam ini Tuhan menunjukan kepada kita sehingga tidak terjadi korban sia-sia,” tuturnya.

Selain berencana melakukan peledakan di DPR RI dan DPRD Riau, turut terungkap bahwa terduga teroris kampus itu juga terkait dengan penyerangan yang terjadi di Mapolda Riau pada 16 Mei 2018 lalu.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto mengungkapkan, salah satu otak penyerangan Mapolda Riau yang tewas ditembak, Pak Ngah, sempat memesan bom ke terduga teroris Z.

Selain itu, Setyo juga menjelaskan bahwa Z yang merupakan pegawai swasta asal Lubuk Sakat, Kabupaten Kampar, Riau itu diduga bagian dari kelompok Jemaah Asnharut Daulah (JAD). Kelompok yang sama penyerangan Mapolda Riau kala itu.

Bali dukung polisi pantau kampus
Menyusul kampus dijadikan sarang teroris, Anggota DPRD Bali, Gusti Putu Widjera, mendukung polisi memantau aktivitas kampus atau perguruan tinggi bila ada dugaan menyebarkan paham radikalisme.

“Saya mendukung langkah yang dilakukan kepolisian atau Densus 88 melakukan pemantauan atau pengawasan aktivitas atau kegiatan kampus bila diduga ada penyebaran paham radikalisme di kampus yang merongrong keutuhan Indonesia agar segera dilakukan tindakan tegas,” kata Widjera, di Denpasar, Senin (04/06/2018).

Ia mengatakan langkah itu sangat tepat, terlebih revisi UU Antiterorisme telah disahkan DPR belum lama ini. Dia berharap jika polisi ingin masuk kampus, terlebih dahulu berkoordinasi dengan otoritas perguruan tinggi, kecuali memang dari penyelidikan sudah ada dugaan mengarah terhadap kampus itu melakukan aksi teror, seperti yang terjadi di salah satu Universitas di Riau.***

Loading...

Komentar

Be Smart, Read More