Membahagiakan Orang Lain Juga Jadi Tradisi Waisak

Loading...

Menitone.com – Tak pernah terbayangkan sebelumnya bagi Mela Septriany untuk bisa merayakan Waisak di Candi Borobudur Jawa Tengah.

Beruntung, kesempatan datang setelah perempuan berusia 25 tahun itu diminta oleh Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) untuk menjadi panitia perayaan Waisak di sana pada tahun lalu.

Di Indonesia, perayaan Waisak memang berpusat di candi yang berada di Magelang itu. Selama seminggu, Mela dan umat Buddha lainnya mengikuti seluruh rangkaian ritual di sana.

Tiga pokok rangkaian Waisak di Indonesia yakni prosesi pengambilan air berkat dari sumber air di Jumprit, Temanggung dan api abadi di Mrapen, Grobogan; prosesi Pindapatta, atau membagikan makan kepada biksu oleh masyarakat di Candi Mendut; dan prosesi samadhi, atau berdiam diri menjelang puncak bulan purnama di Candi Borobudur.

Loading...

Di antara semua prosesi, yang paling membuat hati Mela bergetar ialah saat prosesi Pradaksina, atau prosesi mengitari Candi Borobudur setelah ‘hilal’ Waisak nampak pada dini hari.

Dalam prosesi itu, Mela berbaur dengan ribuan umat Buddha yang melangkah pelan searah jarum jam sambil merapal doa. Udara dingin dan rasa kantuk hampir tak dirasakannya, karena ia ikut khusyuk berdoa.

Usai melakukannya, ia tak kuasa menahan air mata haru.

“Mungkin rasanya seperti umat Islam yang umroh atau naik haji ya. Ada perasaan yang lengkap saat berada langsung di Candi Borobudur saat Waisak. Itu akan menjadi perayaan yang tak terlupakan seumur hidup saya,” kata Mela, saat dihubungi oleh CNNIndonesia.com pada Selasa (9/5).

Hanya sekali itu pengalaman Mela merayakan Waisak di Candi Borobudur. Walau belum pernah pergi sekeluarga, namun orang tua dan tiga saudara kandungnya masing-masing sudah pernah merasakan hal yang sama.

Ketika ditanya apakah dirinya ingin merayakan Waisak bersama keluarganya di Candi Borobudur, tentu saja Mela menginginkannya. Tapi, baginya, itu bukan tradisi yang harus dipaksakan.

Pasti banyak yang mengerutkan kening saat mendengar pernyataan seperti itu, karena biasanya umat beragama selalu ingin merayakan hari raya bersama keluarga atau kerabatnya. Namun, Mela punya jawabannya.

“Saya dan keluarga bisa dibilang sangat jarang merayakan Waisak bersama. Biasanya saya bersama kakak dan adik sudah punya kegiatan sendiri, seperti menjadi panitia di wihara. Itu tradisi kami,” ujar Mela, yang juga berprofesi sebagai pemain barongsai di kelompok wiharanya di Cibubur.

“Orang tua saya mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati ialah saat bisa membantu orang lain. Jadi, dengan membantu wihara menggelar perayaan Waisak untuk umat lainnya, kami tetap merasa bahagia, walau tak merayakannya dengan keluarga,” lanjutnya.

Ritual yang Jadi Atraksi

Telah beberapa kali menjadi panitia Waisak, Mela mengaku tak pernah risih jika perayaan keagamaannya dianggap sebagai atraksi wisata, terutama saat prosesi pelepasan lampion di Candi Borobudur.

Ia malah mengaku bangga sekaligus tak menyangka, karena banyak orang yang tertarik untuk mempelajari agamanya lebih dalam, terutama wisatawan mancanegara (wisman) yang datang jauh-jauh ke Candi Borobudur setiap perayaan Waisak.

“Merasa risih sih tidak. Selama menjadi panitia, saya banyak bertemu dengan turis yang nampak antusias menyaksikan prosesi Waisak. Terkadang saya merasa tersindir, karena belum punya banyak ilmu untuk menjelaskannya kepada mereka,” pungkasnya.

Perayaan Waisak di Candi Borobudur memang selalu meyedot perhatian dunia, terlebih karena objek wisata itu merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia sekaligus Situs Warisan Budaya Dunia versi UNESCO.

Saat perayaan Waisak tahun lalu, pengunjung Candi Borobudur mencapai jumlah 25.336 ribu orang. Jumlah tersebut naik sebanyak 50 persen dalam tahun sebelumnya.

Dalam wawancara terpisah, pengelola Candi Borobudur memperkirakan kalau tahun ini jumlahnya juga akan mengalami peningkatan yang sama.

Potensi atraksi wisata ini juga terus dipromosikan Kementerian Pariwisata demi mencapai target kunjungan wisman sebanyak 20 juta orang hingga 2019.

Belum lama ini, majalah National Geographic (NatGeo) menobatkan Candi Borobudur di posisi ke-tiga dalam daftar ’15 World Iconic Adventure’, bersama Machu Picchu di Peru dan Petra di Yordania.

Rancangan candi yang rumit menjadi pertimbangan NatGeo menobatkan Candi Borobudur masuk ke dalam daftar tersebut.

[cnn/cnn]

Loading...

Comment