Blake Lively kembali menjadi sorotan hukum setelah klaim pelecehan seksualnya terhadap Justin Baldoni ditolak sebagian besar oleh hakim federal.
Putusan ini menegaskan bahwa sebagian besar tuduhan Lively dibatalkan karena alasan teknis hukum, meski beberapa klaim masih tersisa dan akan diproses lebih lanjut.
Hakim Distrik Lewis Liman mengeluarkan putusan pada Kamis, 2 April 2026, yang menolak 10 dari 13 klaim yang diajukan Blake Lively, termasuk tuduhan pelecehan seksual terhadap Baldoni.
Sebagian besar klaim ini dibatalkan karena kesalahan teknis hukum, bukan karena merit kasus.
Dari 13 klaim awal, hanya tiga yang tetap berjalan: pembalasan, membantu dan mendukung pembalasan, serta pelanggaran kontrak.
Menariknya, Justin Baldoni tidak menjadi terdakwa dalam klaim yang tersisa, sementara satu klaim masih menyasar rumah produksi Wayfarer Studios.
Wayfarer Studios menyambut baik putusan ini. “Ini adalah tuduhan yang sangat serius, dan kami berterima kasih kepada pengadilan atas peninjauan cermat terhadap fakta, hukum, dan bukti yang diajukan,” ujar perwakilan Wayfarer kepada CNN.
Mereka menambahkan bahwa kasus yang tersisa kini jauh lebih sempit dan mereka siap membela diri di pengadilan.
Pemilihan juri untuk persidangan dijadwalkan dimulai pada 18 Mei 2026. Pengacara Blake Lively, Sigrid McCawley, menegaskan fokus kasus tetap pada pembalasan yang merugikan reputasi kliennya di lokasi syuting.
“Kasus ini akan menyoroti langkah-langkah luar biasa yang diambil para terdakwa untuk merusak reputasi Blake Lively karena ia membela keselamatan di lokasi syuting,” jelasnya.
McCawley menambahkan bahwa Blake Lively dapat memberikan kesaksian di persidangan dan menyoroti bentuk pembalasan online yang keji, sehingga lebih mudah dideteksi dan dilawan.
Gugatan Blake Lively terhadap Justin Baldoni diajukan pada akhir 2024, terkait dugaan pelecehan selama produksi film It Ends With Us.
Tuduhan mencakup komentar seksual, pembicaraan tentang kehidupan seks pribadi, termasuk kecanduan pornografi, serta adegan intim improvisasi yang tidak direncanakan.
Baldoni menegaskan tuduhan tersebut hanyalah “salah paham dan komentar canggung,” mengklaim beberapa percakapan relevan dengan tema film dewasa.
“Tim produksi mendengarkan kekhawatiran Lively dan menerapkan perubahan yang dimintanya,” kata Baldoni.
Selain Baldoni, Blake Lively juga menggugat Wayfarer Studios dan pihak terkait lainnya atas dugaan pembentukan “pasukan digital” yang merugikan reputasinya setelah film dirilis.
Sebelumnya, pada Januari 2025, Baldoni sempat mengajukan gugatan pencemaran nama baik senilai US$400 juta terhadap Blake Lively dan suaminya, Ryan Reynolds, menuduh mereka “membajak” film dan menghancurkan kariernya. Gugatan tersebut akhirnya dibatalkan.
Dalam seluruh proses ini, Blake Lively tetap menjadi pusat perhatian media, memperjuangkan haknya sekaligus menyoroti isu pembalasan digital dan pelecehan di industri film.







Comment