Menitone.com – Ratusan pelajar dari 30 sekolah menggelar aksi kampanye #TolakJadiTarget, di gerbang barat pintu masuk Monas Jakarta, Sabtu (25/2) pagi. Mereka menyuarakan penolakan adanya iklan rokok di sekitaran sekolahan.
Pelajar dari tiga daerah, yakni Kota Bekasi, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Bogor, juga membawa puluhan spanduk iklan rokok dari berbagai perusahaan. Spanduk yang mereka ambil dari sekitaran sekolah itu digeletakkan di trotoar sebagai barang bukti.

Muhammad Rifqi Alhafidz, pelajar salah satu peserta aksi mengatakan, saat ini masih banyak iklan rokok yang ada di sekitar lingkungan sekolahnya. Iklan tersebut menurutnya menjadi bentuk serangan iklan rokok dan ancaman besar bagi pelajar.
“Saya khawatir, karena banyak temen-temen yang jadi korban,” ungkap pelajar kelas 11 SMKN Cibinong Kabupaten Bogor itu.
Ia menceritakan, iklan rokok di dekat sekolahnya bahkan terpampang di dekat gerbang sekolah. Sehingga mau tidak mau, ketika akan masuk atau keluar gerbang Rifqi dan teman-temannya melihat iklan tersebut.
Menurutnya jika keadaan itu terus terjadi tidak menutup kemungkinan banyak temannya yang menjadi korban. Dimulai dari rasa penasaran saat melihat iklan rokok itu.
Keadaan serupa juga menjadi kekhawatiran pihak guru. Salah satunya diungkapkan Danu Januarta, guru SMPN 1 Cibinong. Iklan rokok di wilayah sekolah masih banyak terpampang.
Target sasarannya tak lain adalah anak didiknya. Dengan kampanye #TolakJadiTarget ini ia berharap mendapatkan perhatian dari pihak pemerintah.
“Semoga dapat menggerakkan hati para pejabat, supaya ada aturan dari mereka tidak ada lagi memasang iklan roko di wilayah sekolah,” ungkap Danu.
Kampanye #TolakJadiTarget yang diadakan bersama Yayasan Lentera Anak ini dimeriahkan dengan teatrikal serigala berbulu domba. Lisda Sundari, Ketua Yayasan Lentera Anak mengatakan, teatrikal itu menggambarkan cara perusahaan rokok menarget anak-anak.
“Kami ingin pemerintah dan masyarakat peduli. Mereka (pelajar) anak-anak masa depan jangan sampai menjadi korban,” ujarnya. Ia berharap ke depan, aksi penolakan itu dapat berkembang di sekolah lain di seluruh Indonesia.
Sumber: kumparan.com






