Therese Halasa: Pejuang Palestina yang Menorehkan Sejarah Melawan Netanyahu

Therese Halasa, pejuang Palestina yang berani melawan Benjamin Netanyahu, menjadi simbol keberanian dan dedikasi kemanusiaan hingga wafat.

Avatar photo
Therese Halasa
Loading...

Bila bicara tentang pejabat yang kini menuai kritik global, Benjamin Netanyahu pasti termasuk di daftar teratas. Perdana Menteri Israel ini dianggap bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan yang menimpa warga Palestina di Gaza, bahkan mendapat sorotan internasional terkait tuduhan kejahatan perang.

Sejak 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) telah mengeluarkan surat penangkapan terhadap Netanyahu. Jika menginjakkan kaki di negara anggota ICC seperti Kanada, Belanda, Prancis, Spanyol, Belgia, Jerman, atau Inggris, dirinya berisiko langsung ditahan.

Keberadaan Netanyahu saat ini pun masih menjadi misteri, apalagi setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026. Kabar yang sempat beredar menyebut Netanyahu terluka hingga meninggal pada Maret, namun belum ada konfirmasi resmi terkait hal itu.

Meski begitu, Netanyahu bukanlah sosok yang “tak tersentuh”. Seorang perempuan Palestina, Therese Halasa, bahkan pernah secara langsung berkonfrontasi dan menembaknya di medan pertempuran, menjadikannya ikon keberanian perlawanan Palestina.

Loading...

Ikon Perlawanan Palestina

Tahun 2020, dunia kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perlawanan Palestina ketika Therese Halasa meninggal di Amman, Yordania. Pejuang perempuan ini wafat pada usia 66 tahun setelah berjuang melawan kanker paru-paru.

Namanya tetap dikenang sebagai simbol keberanian, terutama karena keterlibatannya dalam aksi berani yang menghadapkan dirinya langsung dengan Benjamin Netanyahu di lapangan. Lahir di Akka (Acre), wilayah Palestina yang diduduki sejak 1948, Therese tumbuh di bawah tekanan hukum militer Israel.

Ketidakadilan yang disaksikannya setiap hari menumbuhkan semangat perlawanan sejak muda. Meski menempuh pendidikan keperawatan di Nazareth, panggilan untuk membebaskan tanah airnya jauh lebih kuat. Pada 1971, tanpa sepengetahuan keluarga, ia bergabung dengan Front Popular Pembebasan Palestina (FPLP) di Lebanon, sebuah gerakan berhaluan Komunis.

Dalam wawancara bersejarah, Therese Halasa menegaskan motivasinya bukan semata karena penderitaan pribadi, melainkan patriotisme yang ditanamkan oleh ayahnya dan pengaruh Abdel Nasser.

Konfrontasi Sabena: Luka Sejarah bagi Netanyahu

Puncak aksi Therese terjadi pada Mei 1972 melalui pembajakan Sabena Flight 571. Bersama rekan-rekannya—Rima Tannous, Ali Taha Abu Sneineh, dan Abdel-Aziz al-Atrash—Therese menuntut pembebasan ratusan tahanan Palestina.

Pesawat mendarat di Bandara Lod (sekarang Bandara Ben Gurion). Saat pasukan khusus Israel menyerbu, Benjamin Netanyahu berada di antara mereka. Dalam pertempuran yang sengit, Therese Halasa berhasil menembak bahu Netanyahu sebelum akhirnya ditangkap, meninggalkan catatan sejarah keberanian perempuan Palestina di tengah konflik.

Perlawanan di Balik Jeruji Besi

Setelah aksi tersebut, Therese dan Rima Tannous dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Dalam sel, Therese tetap memimpin aksi protes dan mendidik tahanan lain. Rima Tannous kemudian menulis catatan tentang penyiksaan yang mereka alami selama interogasi, namun semangat Therese tetap tak tergoyahkan.

Ia bebas pada 1983 melalui pertukaran tawanan antara perlawanan Palestina dan Israel, saat itu sedang terlibat mogok makan massal sebagai bentuk protes terhadap kondisi penjara yang tidak manusiawi.

Pengasingan dan Dedikasi Kemanusiaan

Setelah dibebaskan, Israel melarang Therese kembali ke Akka dan mendeportasinya ke Yordania. Di sana, ia kembali ke profesi perawat, merawat pasien dengan disabilitas, sekaligus aktif menyuarakan isu Palestina melalui wawancara, dokumenter, dan aksi solidaritas.

Meski kanker paru-paru menggerogoti tubuhnya, semangat Therese Halasa tak pernah padam. Kehadirannya tetap di barisan terdepan demonstrasi, membuktikan bahwa perjuangan melampaui fisik. Ia meninggal di Amman pada 2020, meninggalkan warisan keberanian dan dedikasi kemanusiaan yang menginspirasi generasi muda Palestina.

Kisah Therese Halasa mengingatkan bahwa revolusi bukan sekadar perlawanan bersenjata, tetapi juga bentuk pengabdian terhadap kemanusiaan dan cinta mendalam terhadap tanah kelahiran.

Loading...
Silahkan nonaktifkan adblock anda untuk membaca konten kami.
Segarkan